Banyak pemimpin usaha masih memandang keberlanjutan sebagai urusan terpisah, yaitu proyek lingkungan yang berdiri sendiri dan bersaing dengan prioritas lain. Pandangan ini berisiko. Menurut pimpinan sustainability CPA Australia, Patrick Vulgun, perubahan iklim sebenarnya memengaruhi strategi, proposisi nilai, dan cara model bisnis berjalan di masa depan.
Bagi perusahaan Indonesia yang ingin bertahan lebih dari lima tahun, pertanyaannya bukan lagi apakah pelaporan keberlanjutan perlu dilakukan, melainkan seberapa siap perusahaan menyusunnya dengan kualitas setara laporan keuangan. Indonesia dijadwalkan mulai menerapkan standar IFRS untuk keberlanjutan pada 1 Januari 2027, dan saat ini sedang menyusun panduan berbasis industri untuk mendukung penerapannya. Artikel ini merangkum pelajaran dari pengalaman Australia, menjelaskan implikasinya bagi Indonesia, dan menunjukkan bagaimana Matasigma dapat membantu.
Poin Utama dari Pembahasan
Keberlanjutan harus dikaitkan dengan bisnis. Perubahan iklim perlu dibingkai sebagai upaya membangun ketahanan usaha, bukan sekadar menyelesaikan masalah lingkungan.
Australia menerapkan pendekatan bertahap. Fokusnya adalah iklim terlebih dahulu, bukan iklim saja, dengan standar wajib yang dimulai dari perusahaan besar .
Tantangan utama ada pada data, metodologi, dan asuransi. Kuantifikasi risiko iklim, skenario, dan kualitas data lintas negara masih menjadi kendala .
Tata kelola menentukan keberhasilan. Dewan direksi memegang tanggung jawab akhir, sementara fungsi keuangan dan manajemen harus memastikan informasi dapat dipertanggungjawabkan .
Pendekatan pragmatis lebih realistis. Kapasitas, keterampilan, dan waktu adaptasi perlu diperhitungkan sejak awal agar penerapan tidak gagal di tengah jalan .
Keberlanjutan adalah Isu Strategi, Bukan Sekadar Isu Lingkungan
Salah satu gagasan terpenting dari diskusi ini adalah cara membingkai keberlanjutan. Jika perusahaan memosisikannya sebagai "masalah keberlanjutan" yang terpisah, anggaran dan persetujuan modal akan sulit didapat. Sebaliknya, jika perusahaan membingkainya sebagai upaya membangun ketahanan model bisnis, isu ini lebih mudah dipahami oleh dewan direksi, CFO, dan pihak penyedia modal .
Implikasi bisnis:
Risiko iklim dapat memengaruhi rantai pasok, biaya operasional, lokasi aset, dan permintaan pelanggan.
Peluang rendah karbon, seperti efisiensi energi atau produk yang lebih ramah lingkungan, dapat menjadi sumber pertumbuhan baru.
Risiko dan peluang ini perlu dinilai bersama risiko lain, seperti risiko keuangan, operasional, dan regulasi, agar prioritas investasi seimbang .
Contoh penerapan: Perusahaan manufaktur yang bergantung pada energi fosil dapat menilai biaya energi di masa depan, risiko regulasi karbon, dan peluang beralih ke sumber energi yang lebih efisien. Analisis ini lebih mudah disetujui dewan karena menyentuh langsung kinerja dan keberlangsungan usaha.
Australia Menerapkan Pendekatan Bertahap: Iklim Dulu, Keberlanjutan Kemudian
Australia tidak langsung mewajibkan seluruh topik keberlanjutan sekaligus. Dalam penerapan standar ISSB, otoritas Australia memisahkan dua standar. AASB S1 bersifat sukarela dan dapat digunakan perusahaan yang ingin melaporkan keberlanjutan di luar iklim. AASB S2, yang berfokus pada iklim, bersifat wajib berdasarkan perubahan legislasi .
Pendekatan ini dinilai pragmatis. Topik keberlanjutan lain, seperti hak asasi manusia, ketimpangan, dampak sosial, serta alam dan keanekaragaman hayati, sangat luas. Jika semuanya diwajibkan sekaligus, pelaku usaha akan kesulitan memprosesnya .
Penerapan bertahap di Australia:
Kelompok 1 mulai melapor pada 1 Januari 2025 dan menyasar perusahaan yang tercatat di ASX 200 .
Perusahaan non-tercatat juga termasuk jika memenuhi dua dari tiga ambang batas yang ditetapkan undang-undang .
Kelompok 2 dan 3 mengikuti dengan tenggat berbeda .
Implikasi untuk Indonesia: Pelajaran utamanya adalah urutan dan cakupan. Perusahaan perlu tahu apakah mereka termasuk kelompok yang wajib lebih dulu, dan tidak perlu menunggu sampai seluruh ketentuan final untuk mulai bersiap.
Tantangan Terbesar: Kuantifikasi Risiko Iklim, Skenario, dan Metodologi
Pengalaman tahun pertama pelaporan di Australia menunjukkan beberapa kendala berulang .
a. Kuantifikasi risiko dan peluang iklim Banyak perusahaan kesulitan mengukur dampak finansial risiko iklim. Menurut pembahasan, hal ini sebagian besar disebabkan oleh metodologi yang belum matang. Kondisi ini diperkirakan akan membaik seiring waktu .
b. Analisis skenario Undang-undang Australia mewajibkan penggunaan jalur 1,5°C sebagai skenario utama, ditambah satu jalur sekunder di atas 1,5°C. Banyak pelaku usaha bingung memilih jalur yang tepat, di mana mencarinya, dan bagaimana memastikan kepatuhan terhadap standar .
c. Kehati-hatian direksi terhadap informasi masa depan Keberlanjutan sering melihat ke depan lebih jauh daripada horizon yang biasa dipakai direksi. Direksi perlu memahami informasi yang mereka setujui, termasuk yang melampaui masa jabatan mereka sendiri .
d. Hubungan dengan laporan keuangan Standar keberlanjutan meminta perusahaan mengukur dampak. Pertanyaannya, bagaimana angka tersebut masuk ke laporan posisi keuangan atau laporan laba rugi. Pembahasan menyebutkan bahwa kerangka akuntansi belum berubah, tetapi perlu ada evolusi seiring kematangan pelaporan iklim .
Implikasi bisnis: Perusahaan yang menunda membangun metodologi internal akan menghadapi kesenjangan besar saat pelaporan diwajibkan. Mulailah dari penilaian sederhana yang dapat diperbaiki bertahap, bukan menunggu sistem sempurna.
Laporan Keberlanjutan Harus Setara Laporan Keuangan
Di Australia, verifikasi independen atas laporan keberlanjutan mengacu pada ASSA 5000. Pada tahap awal, ruang lingkupnya masih terbatas (limited assurance) untuk komponen tertentu, dengan rencana meningkat menjadi tingkat keyakinan wajar (reasonable assurance) pada 2030.
Dua masalah muncul dari tahap ini:
Biaya assurance cukup besar. Bagi sebagian entitas, biayanya kini setara dengan biaya asurans laporan keuangan, jauh di atas perkiraan awal Treasury .
Tekanan pada dokumentasi. Laporan keberlanjutan sebelumnya sering disusun secara sukarela dan jarang diaudit. Kini, setiap klaim harus didukung dokumen sumber yang kuat .
Akibatnya, tim sustainability yang sebelumnya bekerja terpisah kini sering berada di bawah CFO dan harus mengikuti standar ketelitian yang sama dengan tim keuangan .
Implikasi bisnis: Perusahaan perlu membangun jejak audit (audit trail) sejak sekarang. Ini mencakup sumber data, asumsi, metode perhitungan, dan persetujuan internal.
Tata Kelola dan Konsolidasi: Transparansi Adalah Kunci
Tata kelola adalah titik awal. Dewan direksi memegang risiko akhir, dan tanggung jawab tersebut diturunkan ke manajemen eksekutif, yang kemudian mengarahkan seluruh organisasi .
Isu kompleks muncul pada perusahaan induk dengan banyak anak usaha. Australia memungkinkan induk melapor secara sendiri atau secara konsolidasi. Pilihan tersebut bergantung pada materialitas dan konsentrasi risiko. Konsolidasi yang terlalu luas dapat menyembunyikan lokasi risiko iklim yang sebenarnya, terutama jika anak usaha beroperasi di industri yang sangat berbeda .
Praktik yang dinilai baik adalah melaporkan secara konsolidasi, tetapi tetap merinci target dan risiko per anak usaha. Dengan cara ini, pembaca laporan dapat melihat posisi risiko yang sebenarnya .
Implikasi bisnis: Holding dan grup usaha di Indonesia perlu memetakan di mana risiko iklim berada sebelum memutuskan format pelaporan. Keputusan ini memengaruhi kepercayaan investor, pemberi pinjaman, dan mitra usaha.
Data Lintas Negara: Estimasi Diperbolehkan, tetapi Harus Diperbaiki Bertahap
Rantai nilai yang melintasi batas negara menghadirkan tantangan besar, terutama untuk emisi Cakupan 3. Tidak semua yurisdiksi memiliki data yang sama baiknya. Bahkan Australia pun masih kesulitan memastikan data yang kuat, dapat diverifikasi, dan dapat diaudit .
Estimasi dapat digunakan untuk melengkapi data yang belum tersedia. Namun, dalam jangka panjang, perusahaan perlu bekerja sama dengan pemasok dan mitra di berbagai negara agar kualitas datanya meningkat .
Penting juga dicatat bahwa perusahaan tidak perlu melibatkan setiap pihak dalam rantai nilai secara langsung. Yang diperlukan adalah memetakan rantai nilai, memahami kontribusi setiap pihak, dan menetapkan batas yang konsisten dengan laporan keuangan. Protokol GHG direkomendasikan karena menyelaraskan batas pelaporan keuangan dan keberlanjutan .
Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari Australia
Berdasarkan pengalaman Australia, ada beberapa pelajaran yang relevan untuk Indonesia :
Aspek | Pelajaran dari Australia | Relevansi untuk Indonesia |
|---|---|---|
Cakupan awal | Mulai dari kelompok yang paling siap dan berdampak besar | Tentukan kategori entitas dan urutan kewajiban sejak dini |
Target asurans | Target asurans wajar dinilai terlalu ambisius untuk tenggat awal | Sesuaikan tingkat asurans dengan kapasitas industri |
Kapasitas | Keterampilan dan kapasitas pelaporan memerlukan waktu | Investasikan pelatihan untuk tim keuangan, sustainability, dan auditor |
Data | Kualitas data lintas negara masih sulit | Mulai bangun sistem pengumpulan data sejak sekarang |
Ritme | Pelaporan dan asurans perlu berkembang bersamaan | Hindari kesenjangan antara laporan yang terbit dan kemampuan verifikasinya |
Patrick Vulgun menegaskan bahwa Australia bukan satu-satunya negara yang menghadapi tantangan ini. Negara seperti Malaysia dan Singapura, termasuk Indonesia, kemungkinan akan menghadapi isu serupa dengan tingkat berbeda . Kendala ini dianggap sebagai "masa tumbuh", bukan krisis. Karena itu, pelaku usaha Indonesia dapat belajar dari pengalaman tersebut dan menyiapkan diri lebih awal.
Mengapa Ini Penting untuk Bisnis yang Ingin Bertahan Lebih dari 5 Tahun
Perusahaan yang berorientasi jangka panjang perlu memperhatikan tiga hal.
Akses modal. Investor dan pemberi pinjaman semakin membutuhkan informasi risiko iklim yang terukur. Perusahaan yang tidak mampu menjelaskan risikonya berpotensi kesulitan mendapatkan pembiayaan. Pembahasan juga menekankan bahwa pendanaan transisi rendah karbon membutuhkan narasi bisnis yang jelas, bukan sekadar proyek lingkungan .
Ketahanan operasional. Pemetaan risiko iklim membantu perusahaan melihat kerentanan rantai pasok, biaya energi, dan lokasi aset sebelum menjadi krisis.
Kepercayaan pemangku kepentingan. Laporan yang dapat diverifikasi meningkatkan kepercayaan pelanggan, mitra, dan regulator.
So what? Perusahaan yang mulai membangun sistem pelaporan dan tata kelola keberlanjutan sekarang akan memiliki waktu untuk belajar, memperbaiki data, dan menyesuaikan strategi. Perusahaan yang menunggu hingga tenggat wajib akan menghadapi biaya lebih besar dan waktu yang lebih sempit.
Bagaimana Matasigma Dapat Membantu
Tim Matasigma bekerja bersama konsultan keuangan dan akuntan di Indonesia. Dari pengalaman tersebut, kami melihat bahwa banyak perusahaan tidak kekurangan niat, tetapi kekurangan alur kerja yang tertata. Dalam konteks standar keberlanjutan, Matasigma dapat membantu dalam beberapa area:
Penilaian kesiapan: memetakan kewajiban yang relevan, kesenjangan data, dan prioritas tindakan.
Penyusunan alur kerja: menentukan peran antara tim keuangan, sustainability, operasional, dan dewan direksi.
Pendampingan metodologi: membantu menyusun pendekatan pengukuran dan skenario yang dapat dipertanggungjawabkan.
Persiapan asurans: membangun dokumentasi, jejak audit, dan kontrol internal agar klaim laporan dapat diverifikasi.
Penyelarasan dengan laporan keuangan: memastikan informasi keberlanjutan dan keuangan saling konsisten.
Pendekatan ini tidak dimulai dari dokumen yang sempurna. Kami biasanya memulai dari kondisi yang ada, lalu menyusun langkah yang realistis sesuai kapasitas perusahaan.
Penutup
Keberlanjutan bukan lagi proyek sampingan. Ia menyentuh strategi, akses modal, tata kelola, dan keandalan laporan keuangan. Pengalaman Australia menunjukkan bahwa penerapan standar keberlanjutan akan menghadapi tantangan data, metodologi, dan asurans, tetapi tantangan itu dapat dikelola dengan persiapan bertahap. Bagi perusahaan Indonesia yang ingin bertahan lebih dari lima tahun, langkah terbaik adalah mulai sekarang: membangun pemahaman, memetakan kesenjangan, dan menyusun sistem yang dapat berkembang seiring waktu. Dengan persiapan yang tepat, keberlanjutan dapat menjadi fondasi keuangan dan bisnis yang lebih kuat.
Jadwalkan konsultasi awal dengan tim Matasigma untuk memetakan kesiapan pelaporan keberlanjutan perusahaan Anda. Sesi awal berfokus pada tiga pertanyaan: apakah perusahaan Anda berpotensi masuk kategori wajib, di mana kesenjangan data terbesar, dan apa langkah pertama yang paling realistis dalam 90 hari ke depan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah standar keberlanjutan hanya berlaku untuk perusahaan besar? Tidak selalu. Di Australia, penerapan dimulai dari kelompok tertentu lalu meluas. Kelompok pertama berfokus pada perusahaan tercatat di ASX 200, tetapi perusahaan non-tercatat juga terdampak jika memenuhi dua dari tiga ambang batas yang ditetapkan undang-undang . Perusahaan Indonesia sebaiknya memeriksa kriteria kategori entitasnya sejak dini, karena ambang batas itulah yang menentukan kewajiban, bukan semata ukuran perusahaan.
Apakah perusahaan harus melaporkan semua topik keberlanjutan sekaligus? Tidak. Pendekatan Australia adalah "iklim dulu, bukan iklim saja." Standar yang berfokus pada iklim (AASB S2) bersifat wajib, sedangkan standar yang mencakup topik keberlanjutan lebih luas (AASB S1) bersifat sukarela . Pendekatan bertahap ini dinilai lebih realistis karena topik seperti hak asasi manusia, ketimpangan, dan keanekaragaman hayati sangat luas .
Apakah data estimasi masih boleh digunakan dalam laporan? Boleh, terutama pada tahap awal. Pembicara menjelaskan bahwa estimasi dapat melengkapi sumber data yang belum kuat, dan pada tahap awal laporan memang banyak mengandung estimasi dan asumsi . Namun, seiring kematangan pelaporan, perusahaan perlu memperbaiki sumber data agar dapat diverifikasi dan diaudit .
Apakah laporan keberlanjutan perlu diaudit seperti laporan keuangan? Ya, secara bertahap. Di Australia, asurans menggunakan ASSA 5000. Tahap awal berupa asurans terbatas (limited assurance) untuk komponen tertentu, dengan rencana naik ke asurans wajar (reasonable assurance) pada 2030 . Biaya asurans untuk sebagian entitas sudah setara dengan biaya asurans laporan keuangan . Karena itu, perusahaan perlu menyiapkan dokumentasi pendukung sejak sekarang.
Apa langkah pertama yang realistis bagi perusahaan yang belum punya sistem pelaporan keberlanjutan? Mulailah dengan memetakan risiko iklim di seluruh entitas, termasuk anak usaha, lalu membangun tata kelola yang jelas dari dewan direksi hingga tim operasional . Pembicara menekankan bahwa perusahaan tidak perlu menunggu sistem yang sempurna. Yang penting adalah memulai dengan proses yang sederhana dan terus diperbaiki .