Utang Bukan Beban - Tapi Alat: Apa yang Saya Pelajari dari 12 Tahun Mendampingi Berbagai Usaha Keluarga di Indonesia

Di Matasigma, kami tidak mengajarkan “cara berhutang”. Kami mengajarkan cara membedakan antara utang yang melemahkan posisi Anda—dan utang yang justru memperkuat fondasi kekayaan jangka panjang

Saya masih ingat pertemuan di ruang rapat lantai 27 sebuah gedung perkantoran di Surabaya—tahun 2022. Seorang direktur operasional grup usaha manufaktur, berusia 58 tahun, duduk tenang di hadapan saya dan tim. Ia menunjukkan laporan keuangan terakhir: arus kas positif, laba bersih stabil selama lima tahun berturut-turut, dan rasio utang terhadap ekuitas hanya 12%. Lalu ia berkata, tegas:
“Kami tidak akan ambil kredit bank lagi. Utang itu racun.”

Saat itu, saya tidak membantah. Saya hanya bertanya pelan:
“Kalau begitu, berapa persen dari nilai gedung pusat produksi Anda—yang tercatat di laporan senilai Rp 420 miliar—yang saat ini digunakan sebagai agunan untuk likuiditas operasional?”

Ia diam sejenak. Lalu menjawab: “Nol. Kami tidak mau risiko.”

Padahal, gedung itu—berlokasi di kawasan industri terintegrasi dengan akses logistik langsung ke pelabuhan—telah dinilai ulang oleh penilai independen enam bulan sebelumnya. Nilainya naik 18% dalam dua tahun. Dan bank-bank private banking yang pernah kami ajak bicara bersedia memberikan fasilitas pinjaman hingga Rp 63 miliar—dengan bunga tetap 6,2% per tahun, tanpa cicilan pokok bulanan, dan jaminan hanya atas aset tersebut.

Itu bukan sekadar angka. Itu adalah celah antara kepemilikan dan pemanfaatan. Antara punya—dan benar-benar bisa menggunakan.

Dan dari situlah saya mulai menyadari: banyak keluarga usaha di Indonesia tidak kekurangan aset. Mereka kekurangan kerangka keuangan untuk memanfaatkan aset itu secara strategis.


Lima Prinsip yang Saya Amati—Bukan Diajarkan

Berikut adalah lima prinsip yang bukan saya temukan di buku teks, tapi saya kumpulkan dari puluhan proyek pendampingan—mulai dari kelompok usaha batik di Solo, pengusaha kelapa sawit di Riau, hingga pemilik jaringan rumah sakit di Jakarta:

1. Utang Itu Netral—Yang Menentukan Baik atau Buruk Adalah Strukturnya

Saya sering mendengar klien berkata: “Kami tidak mau utang, karena takut rugi.” Tapi ketika kami telusuri lebih dalam, ternyata yang mereka takuti bukan utang—melainkan ketidakpastian. Ketidakpastian tentang:

  • Apakah cicilan bisa dibayar tiap bulan jika penjualan turun?
  • Apakah agunan akan disita jika ada satu kali keterlambatan?
  • Apakah mereka harus menjual aset strategis hanya untuk melunasi pinjaman jangka pendek?

Itu bukan ketakutan terhadap utang—itu ketakutan terhadap struktur utang yang tidak selaras dengan alur bisnis dan siklus aset mereka.

Sementara, kelompok usaha yang berhasil membangun kekayaan lintas generasi—bukan karena mereka tidak punya utang, tapi karena mereka memilih jenis utang yang tidak bergantung pada arus kas operasional, melainkan pada nilai dan stabilitas aset yang mereka miliki.

Mereka tidak bertanya, “Bisa tidak saya bayar cicilan bulan depan?”
Mereka bertanya, “Apa dampaknya jika nilai aset ini turun 20% dalam tiga tahun—dan apakah rasio pinjaman saya masih aman?”

2. Dua Jenis Utang—Yang Memisahkan Fleksibilitas dari Ketergantungan

Dalam praktik sehari-hari, saya membagi utang menjadi dua kategori—bukan berdasarkan nama produk bank, tapi berdasarkan sumber pembayaran:

  • Utang berbasis penghasilan: Cicilan wajib tiap bulan, diambil dari laba bersih setelah pajak, dan dikaitkan langsung dengan kinerja operasional. Ini model dominan di KUR, KTA, dan KPR konvensional. Cocok untuk kebutuhan transaksional—tapi berisiko tinggi saat bisnis mengalami volatilitas.
  • Utang berbasis aset: Hanya bunga yang wajib dibayar—pokok bisa direstrukturisasi, diperpanjang, atau bahkan dialihkan ke entitas lain (misalnya, ke holding company anak). Dana tidak dikenakan PPh, karena bukan penghasilan—dan agunannya adalah properti, saham, atau piutang berjaminan yang nilainya terukur dan stabil.

Saya pernah membantu sebuah keluarga usaha di Bandung memindahkan tiga pinjaman operasional bernilai total Rp 28 miliar—dengan bunga rata-rata 11,5% per tahun—ke dalam satu fasilitas berbasis aset atas gedung perkantoran mereka. Hasilnya:

  • Bunga turun menjadi 6,8% per tahun,
  • Tidak ada cicilan pokok selama lima tahun pertama,
  • Dana bisa dialokasikan untuk upgrade sistem manufaktur—bukan untuk menutupi defisit arus kas.

Yang berubah bukan jumlah utangnya—tapi hubungan antara utang dan kendali.

3. Loan-to-Value Bukan Angka Teknis—Tapi Ukuran Ruang Napas

Di lapangan, saya tidak pernah menyebut LTV sebagai “rasio kredit”. Saya menyebutnya “persentase cadangan Anda terhadap fluktuasi pasar”.

Misalnya:

  • Sebuah keluarga usaha di Medan memiliki lahan seluas 5 hektar di kawasan baru berkembang—dinilai Rp300 miliar. Mereka mengajukan pinjaman Rp45 miliar (LTV 15%).
  • Dua tahun kemudian, nilai lahan turun 12% karena perlambatan investasi infrastruktur. Nilainya menjadi Rp264 miliar—tapi LTV tetap di 17%. Masih jauh di bawah batas aman 30% yang ditetapkan bank.

Bank tidak mengirim surat peringatan. Tidak ada margin call. Tidak ada tekanan untuk menjual buru-buru. Keluarga itu punya waktu—dan ruang—untuk menunggu, menyesuaikan strategi, bahkan mempercepat pengembangan lahan itu sendiri.

Itulah fungsi sebenarnya dari LTV rendah: bukan untuk membuat utang “lebih murah”, tapi untuk memberi ketahanan sistemik.

4. Melunasi Utang Bukan Tujuan—Tapi Salah Satu Opsi di Antara Banyak Pilihan

Salah satu momen paling menarik dalam pendampingan keuangan adalah ketika klien menyadari bahwa melunasi utang bukanlah tanda keberhasilan finansial—melainkan salah satu keputusan strategis di antara banyak alternatif.

Seorang klien di Yogyakarta—pemilik jaringan hotel butik—memiliki pinjaman berbasis aset senilai Rp12 miliar sejak 2019. Saat nilai portofolio propertinya naik 35% pada 2023, ia sempat ingin melunasi utang itu sepenuhnya. Kami bersama-sama menghitung:

  • Jika dilunasi, ia harus menjual satu unit hotel—memicu PPh final 2% dan PPh atas keuntungan sekitar 25%,
  • Jika dipertahankan, ia hanya membayar bunga Rp720 juta/tahun—dan bisa menggunakan dana segar untuk ekspansi ke kota baru, tanpa mengganggu arus kas operasional.

Ia memilih opsi kedua. Hari ini, jaringannya sudah mencakup empat kota—dan utang itu masih berjalan, tapi fungsinya telah berubah: dari “beban” menjadi alat percepatan pertumbuhan.

Ini bukan soal menghindari kewajiban—tapi soal memilih kewajiban yang sejalan dengan tujuan jangka panjang, bukan hanya tekanan jangka pendek.

5. Utang Bisa Jadi Jembatan Antargenerasi—Bukan Sekadar Alat untuk Satu Orang

Yang paling mendalam bagi saya adalah bagaimana utang berbasis aset bisa menjadi bagian dari perencanaan warisan—bukan sebagai beban, tapi sebagai mekanisme transfer yang efisien dan berkelanjutan.

Saya pernah membantu keluarga usaha di Makassar menyusun struktur kepemilikan ulang atas portofolio tanah pertanian seluas 120 hektar. Daripada membagi tanah itu secara fisik—yang berisiko memicu sengketa, penurunan nilai, dan beban administrasi tinggi—kami membangun holding company, lalu menggunakan tanah sebagai agunan untuk fasilitas pinjaman. Dana pinjaman digunakan untuk:

  • Mendirikan dana pendidikan keluarga,
  • Membeli saham preferen di perusahaan keluarga—sehingga generasi muda mendapat dividen stabil tanpa harus mengelola operasional,
  • Menyediakan likuiditas bagi ahli waris yang ingin keluar dari struktur kepemilikan tanpa memaksa penjualan aset inti.

Dan saat sang pendiri meninggal tahun lalu, utang itu tidak “lenyap”—tapi dialihkan ke holding company, sementara nilai tanah mengalami step-up basis secara otomatis di sistem perpajakan. Artinya: tidak ada PPh atas kenaikan nilai historis—dan generasi berikutnya mewarisi aset dengan dasar perolehan yang sudah diperbarui.

Utang, dalam konteks ini, bukan akhir cerita—tapi bab baru dalam narasi keluarga.


Penutup: Bukan Tentang Menjadi Kaya—Tapi Tentang Memahami Cara Uang Bekerja

Saya tidak percaya pada “rahasia kekayaan”. Saya percaya pada pemahaman yang dalam tentang cara sistem bekerja—dan bagaimana kita bisa bermain di dalamnya tanpa kehilangan kendali.

Yang saya pelajari dari 12 tahun ini bukan bagaimana menjadi kaya—tapi bagaimana menghindari jebakan yang membuat orang pintar tetap terjebak dalam siklus yang sama. Jebakan itu bukan kemalasan atau kurang kerja keras. Jebakannya adalah menggunakan alat keuangan yang dirancang untuk konteks berbeda—seperti menggunakan skema kredit konsumtif untuk mengelola portofolio aset bernilai triliunan.

Jika Anda membaca tulisan ini dan merasa: “Saya punya aset—tapi belum tahu cara memanfaatkannya tanpa risiko berlebihan”, maka Anda berada di titik yang tepat. Bukan karena Anda kekurangan sesuatu—tapi karena Anda sedang memasuki tahap berikutnya: dari memiliki ke mengendalikan, dari menumpuk ke mengalirkan, dari bertahan ke berlanjut.

Saya terbuka untuk diskusi lebih lanjut—bukan untuk menjual solusi, tapi untuk mendengar cerita Anda, memahami struktur aset dan keluarga Anda, dan bersama-sama mengeksplorasi: bagaimana logika keuangan yang sama bisa diterapkan—dengan cara yang realistis, aman, dan berkelanjutan—di konteks usaha dan keluarga Anda.

Silakan kirim pesan. Kita mulai dari satu aset. Satu pertanyaan. Dan satu langkah kecil menuju keuangan yang benar-benar bekerja untuk Anda.

footer