Value Creation: Bagaimana Caranya Mengukur Kesuksesan Bisnis dengan Benar - Bukan Hanya dari Pendapatan atau Laba
Value creation bukan sekadar pendapatan atau laba, tapi menghasilkan pengembalian lebih tinggi dari biaya modal. Ketahui cara mengukur RONA vs WACC unuk terhindar dari menurunnya nilai perusahaan meski laba positif
Hai para pebisnis dan pemilik usaha! Apa kabar hari ini? Semoga Anda dalam keadaan sehat dan semangat menjalankan bisnis. Kami yakin banyak dari Anda pernah mendengar istilah "value creation" atau penciptaan nilai dalam dunia bisnis. Tapi jujur, seringkali istilah ini terdengar seperti jargon kosong yang dipakai di rapat-rapat perusahaan besar, tanpa benar-benar dipahami maknanya dalam operasional sehari-hari bisnis kita.
Pernahkah Anda mengalami situasi di mana bisnis Anda terus menerus mencetak laba, tapi entah kenapa rasanya seperti tidak semakin "berharga"? Atau mungkin Anda pernah melihat perusahaan yang labanya kecil tapi malah dinilai tinggi oleh pasar? Nah, inilah yang disebut dengan value creation. Bukan sekadar laba di akhir tahun, tapi bagaimana bisnis Anda benar-benar menciptakan nilai yang berkelanjutan.
Dalam blog ini, kami akan membahas konsep value creation dengan bahasa yang sederhana, berdasarkan pengalaman dan analisis mendalam yang telah kami lakukan selama bertahun-tahun. Kami akan tunjukkan bagaimana Anda sebagai pebisnis bisa mengukur apakah bisnis Anda sedang menciptakan atau justru menghancurkan nilai, plus strategi konkret yang bisa langsung Anda terapkan. Jadi, simak sampai habis ya!
Kenapa Value Creation Itu Penting?
Sebagai pebisnis, mungkin Anda berpikir: "Yang penting untung, kenapa harus pusing dengan value creation?" Pertanyaan yang bagus! Mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda.
Bayangkan Anda punya dua toko roti. Toko A setiap bulan laba Rp 5 juta, sedangkan Toko B laba Rp 3 juta. Secara insting, Anda pasti akan memilih Toko A, kan? Tapi bagaimana jika kami beri tahu bahwa untuk menghasilkan laba Rp 5 juta tersebut, Toko A menggunakan modal Rp 100 juta, sedangkan Toko B hanya menggunakan modal Rp 10 juta?
Hitungannya sederhana:
- Toko A: Return 5% (5 juta / 100 juta)
- Toko B: Return 30% (3 juta / 10 juta)
Dalam konteks value creation, Toko B jauh lebih unggul meskipun labanya lebih kecil! Mengapa? Karena ia menghasilkan return yang jauh di atas biaya modalnya.
Inilah inti dari value creation: perusahaan menciptakan nilai ketika return yang dihasilkan lebih tinggi daripada biaya modal yang digunakan.
Seperti yang Matasigma pelajari dari berbagai studi kasus yang pernah kami tangani, McKinsey menjadi salah satu sumber utama teori ini. Mereka menekankan bahwa tujuan utama bisnis bukan hanya mencari laba, tapi menciptakan nilai yang berkelanjutan—dengan kata lain, menghasilkan return yang lebih tinggi dari cost of capital.
Banyak pebisnis, termasuk yang sudah berpengalaman, sering salah fokus hanya pada laba akuntansi tanpa mempertimbangkan biaya modal. Padahal, jika return bisnis Anda di bawah cost of capital, sebenarnya bisnis Anda sedang menghancurkan nilai, meskipun laporan keuangannya menunjukkan laba positif!
Konsep Value Creation
Mari kita kupas konsep value creation dengan lebih detail, tapi tetap dengan bahasa yang mudah dipahami.
Perspektif Akuntansi vs Perspektif Bisnis
Sebagai pebisnis, Anda pasti familiar dengan neraca: Aktiva = Hutang + Ekuitas. Ini adalah perspektif akuntansi yang umum.
Tapi ada cara pandang lain yang lebih relevan untuk value creation, yaitu perspektif bisnis/keuangan:
Operasi = Modal
Apa maksudnya? Dalam perspektif bisnis, Matasigma memisahkan bisnis menjadi dua "kota" sebagai analoginya
- Kota Operasi: Di sini berada 90% aktivitas bisnis Anda—penjualan, produksi, pelayanan pelanggan, dll.
- Kota Modal: Di sini berada manajemen struktur modal, kebijakan dividen, dan keputusan pendanaan.
Mengapa pemisahan ini penting? Karena kita perlu mengukur kinerja operasional bisnis secara murni, tanpa tercampur oleh biaya modal dan pajak.
Cost of Capital: Biaya Sebenarnya dari Uang Anda
Mari kita bahas konsep kunci pertama: cost of capital atau biaya modal.
Biaya modal adalah tingkat return yang diharapkan oleh pemilik modal (baik ekuitas maupun hutang) untuk menanamkan uangnya di bisnis Anda. Ini adalah "harga" yang harus Anda bayar untuk menggunakan uang tersebut.
Dalam konteks yang mari kita analogikan:
- Cost of Equity: Jika Anda mengundang investor untuk menanam saham di bisnis Anda, berapa return yang mereka harapkan? Berdasarkan data historis pasar saham dari berbagai studi yang kami lakukan, di beberapa negara di Asia (khususnya negara maju), pengembalian atas saham sekitar 18% per tahun (gabungan kenaikan harga saham 15-16% dan dividen 2-3%). Di Indonesia, angkanya mungkin berbeda, tapi prinsipnya sama—investor mengharapkan return yang memadai untuk risiko yang mereka ambil.
- Cost of Debt: Jika Anda meminjam dari bank, berapa bunga yang harus Anda bayar? Misalnya 10% per tahun. Tapi karena bunga hutang bisa dikurangkan dari pajak sesuai dengan batasan nilai maksimal pengurangan pajak yang diperbolehkan berdasarkan jenis usaha menurut ketentuan Pajak di Indonesia, cost of debt setelah pajak menjadi lebih rendah. Dengan tarif pajak 28%, cost of debt setelah pajak menjadi sekitar 7.2% (10% x (1-0.28)).
Weighted Average Cost of Capital (WACC) adalah rata-rata tertimbang dari kedua biaya ini. Jika bisnis Anda menggunakan 90% ekuitas dan 10% hutang, WACC-nya sekitar:
(90% x 18%) + (10% x 7.2%) = 16.92% atau sekitar 17%.
Inilah tolak ukur utama value creation: apakah bisnis Anda menghasilkan return lebih dari 17%? Jika ya, Anda menciptakan nilai. Jika tidak, Anda sedang menghancurkan nilai meskipun laba akuntansi positif.
Mengukur Value Creation: RONA dan ROE
Bagaimana cara mengukur apakah bisnis Anda menciptakan nilai? Ada dua rasio kunci:
- RONA (Return on Net Assets):
RONA = Operating Profit / Net AssetsRONA mengukur seberapa efektif bisnis Anda menggunakan aset operasionalnya untuk menghasilkan laba operasional. Penting untuk dicatat: RONA harus diukur tanpa memasukkan biaya bunga dan pajak, karena ini adalah biaya modal, bukan biaya operasional. - ROE (Return on Equity):
ROE = Laba Setelah Pajak / EkuitasROE mengukur return yang didapat pemilik bisnis dari modal yang mereka tanamkan.
Kunci utamanya: RONA harus lebih tinggi dari WACC (cost of capital). Jika RONA Anda 20% sementara WACC 17%, Anda menciptakan nilai. Jika RONA 15% sementara WACC 17%, Anda sebetulnya menurunkan atau bahkan menghancurkan nilai usaha anda.
Memecah RONA: Profitabilitas vs Aktivitas
RONA bisa dipecah menjadi dua komponen utama:
RONA = Profitabilitas × Aktivitas
Dimana:
- Profitabilitas = EBIT / Penjualan (margin operasional)
- Aktivitas = Penjualan / Net Assets (perputaran aset)
Ini adalah "dashboard" sederhana yang bisa Anda gunakan untuk menganalisis kinerja bisnis:
- Profitabilitas: Seberapa besar laba operasional yang Anda hasilkan dari setiap rupiah penjualan. Ini dipengaruhi oleh harga, biaya produksi, efisiensi operasional, dan struktur biaya (biaya tetap vs variabel).
- Aktivitas: Seberapa efisien Anda menggunakan aset untuk menghasilkan penjualan. Ini mencakup perputaran aset tetap (pabrik, mesin) dan perputaran modal kerja (persediaan, piutang).
Jika RONA bisnis Anda turun, Anda bisa langsung tahu apakah masalahnya di profitabilitas (margin menyusut) atau aktivitas (aset tidak dimanfaatkan optimal).
Memecah ROE: Profitabilitas × Aktivitas × Leverage
Sementara itu, ROE bisa dipecah menjadi tiga komponen:
ROE = Profitabilitas × Aktivitas × Leverage
Dimana:
- Leverage = Total Modal / Ekuitas
Leverage menunjukkan seberapa banyak Anda menggunakan hutang dalam struktur modal bisnis. Leverage 1 berarti tidak ada hutang, sementara leverage di atas 1 berarti ada hutang.
Pemahaman tentang leverage penting karena:
- Hutang bisa meningkatkan ROE (karena cost of debt lebih rendah dari return bisnis)
- Tapi hutang juga meningkatkan risiko (karena bunga harus dibayar tetap, terlepas dari kinerja bisnis)
Contoh Kasus: Warung Kopi yang Menciptakan vs Menghancurkan Nilai
Untuk memperjelas, mari kita lihat contoh kasus dua warung kopi di Jakarta.
Kasus 1: Warung Kopi A (Menciptakan Nilai)
- Modal awal: Rp200 juta (100% ekuitas)
- Penjualan tahunan: Rp300 juta
- EBIT (laba operasional): Rp60 juta
- WACC: 18% (karena bisnis ini 100% menggunakan ekuitas)
RONA = EBIT / Aset = 60 juta / 200 juta = 30%
Karena RONA (30%) > WACC (18%), warung kopi ini menciptakan nilai. Meskipun laba bersih mungkin "hanya" Rp40 juta setelah pajak, bisnis ini menghasilkan return yang jauh di atas biaya modalnya.
Kasus 2: Warung Kopi B (Menghancurkan Nilai)
- Modal awal: Rp500 juta (300 juta ekuitas + 200 juta hutang)
- Penjualan tahunan: Rp400 juta
- EBIT : Rp65 juta
- Bunga: Rp20 juta (10% dari 200 juta)
- Pajak: Rp9 juta (20% dari laba kena pajak)
- Laba bersih: Rp36 juta
- WACC: 15% (dihitung dari 60% ekuitas dengan cost 18% dan 40% hutang dengan cost 7.2% setelah pajak)
RONA = EBIT / Aset = 65 juta / 500 juta = 13%
Karena RONA (13%) < WACC (15%), warung kopi ini sebenarnya menghancurkan nilai, meskipun laporan keuangan menunjukkan laba bersih Rp36 juta. Investor sebenarnya kehilangan value karena return bisnis lebih rendah dari biaya modal.
Apa yang salah di Warung Kopi B? Dua kemungkinan:
- Profitabilitas terlalu rendah: Margin EBIT hanya 16.25% (65/400), mungkin karena biaya operasional terlalu tinggi atau harga terlalu murah.
- Aktivitas terlalu rendah: Perputaran aset hanya 0.8x (400/500), artinya aset tidak dimanfaatkan optimal.
Jika pemilik Warung Kopi B fokus hanya pada laba bersih Rp36 juta, mereka tidak akan menyadari bahwa bisnis sebenarnya menghancurkan nilai. Tapi dengan analisis RONA vs WACC, masalahnya jelas terlihat.
Strategi Value Creation yang Bisa Langsung Diterapkan
Berdasarkan konsep di atas, berikut rekomendasi konkret dari Matasigma untuk Anda sebagai pebisnis:
1. Hitung WACC Bisnis Anda
Langkah pertama adalah mengetahui berapa cost of capital bisnis Anda. Meskipun data historis seperti di negara negara lain di Asia mungkin berbeda dengan kondisi Indonesia, prinsipnya sama:
- Untuk cost of equity: Hitung berapa return yang diharapkan investor untuk bisnis sejenis di industri Anda. Jika bisnis Anda berisiko tinggi, cost of equity akan lebih tinggi.
- Untuk cost of debt: Hitung bunga pinjaman Anda, lalu sesuaikan dengan manfaat pajak (cost of debt setelah pajak = bunga x (1 - tarif pajak)).
Contoh sederhana untuk UMKM di Indonesia:
- Cost of equity: 20% (karena risiko bisnis UMKM tinggi)
- Cost of debt: 12% sebelum pajak, 8.4% setelah pajak (dengan tarif pajak 30%)
- Jika struktur modal 70% ekuitas dan 30% hutang:
WACC = (70% x 20%) + (30% x 8.4%) = 14% + 2.52% = 16.52%
Gunakan angka ini sebagai tolak ukur (benchmark) untuk mengukur kinerja bisnis Anda.
2. Fokus pada RONA, Bukan Hanya Laba Bersih
Setiap bulan, hitung RONA bisnis Anda:
RONA = EBIT / Total Aset Operasional
Pastikan angka ini selalu di atas WACC Anda. Jika tidak, bisnis Anda sedang menghancurkan nilai meskipun laba bersih positif.
3. Analisis dengan "Crib Sheet" Value Creation
Buat dashboard sederhana berdasarkan "crib sheet" yang telah kami kembangkan dari berbagai studi kasus:
Profitabilitas:
- Bagaimana margin operasional (EBIT/Penjualan)?
- Apa yang bisa ditingkatkan: harga, efisiensi produksi, atau struktur biaya?
- Bagaimana kebijakan dividen memengaruhi laba yang bisa diinvestasikan kembali?
Aktivitas:
- Berapa perputaran aset tetap (Penjualan/Aset Tetap)?
- Berapa perputaran modal kerja (Penjualan/Modal Kerja)?
- Apa aset yang kurang produktif yang bisa dijual atau dioptimalkan?
Leverage:
- Apa struktur modal optimal untuk bisnis Anda?
- Apa kapasitas hutang bisnis Anda tanpa meningkatkan risiko berlebihan?
- Bagaimana kebijakan dividen memengaruhi kebutuhan akan hutang?
4. Hindari "Growth for Growth's Sake"
Banyak pebisnis terjebak dalam pertumbuhan yang tidak berkelanjutan. Pertumbuhan hanya bermanfaat jika return dari pertumbuhan tersebut di atas WACC.
Sebelum ekspansi atau investasi baru, selalu tanya:
- Apa return yang diharapkan dari investasi ini?
- Apakah return tersebut di atas WACC bisnis saya?
- Jika tidak, lebih baik kembalikan uang ke pemegang saham melalui dividen daripada melakukan investasi yang menghancurkan nilai.
5. Evaluasi Bisnis dengan Sudut Pandang Investor
Bayangkan Anda adalah investor yang ingin membeli bisnis Anda. Berapa yang akan Anda bayar? Jika bisnis Anda menghasilkan return 13% sementara Anda bisa mendapatkan return 18% di tempat lain dengan risiko serupa, apakah Anda akan membeli bisnis ini?
Sudut pandang ini akan membantu Anda melihat bisnis dari perspektif value creation, bukan hanya dari sisi operasional sehari-hari.
Penutup: Value Creation Bukan Teori, Tapi Praktik Harian
Value creation bukanlah konsep akademis yang hanya berlaku untuk perusahaan besar di luar negeri. Ini adalah prinsip mendasar yang bisa dan harus diterapkan oleh setiap pebisnis, dari UMKM hingga perusahaan multinasional.
Intinya sederhana: bisnis Anda menciptakan nilai ketika return yang dihasilkan lebih tinggi dari biaya modal yang digunakan. Tolak ukurnya jelas: RONA harus lebih tinggi dari WACC.
Jangan terjebak hanya pada laba akuntansi. Laba yang dihasilkan dengan modal yang terlalu besar justru menghancurkan nilai bisnis Anda. Fokus pada efisiensi penggunaan modal, baik melalui peningkatan profitabilitas (margin) maupun aktivitas (perputaran aset).
Sebagai penutup, Matasigma ingin mengajak Anda memahami dinamika bisnis dari perspektif yang berbeda. Dalam setiap organisasi, ada dua "tim" utama yang bekerja: tim yang bertanggung jawab mengumpulkan modal (dengan biaya tertentu, misalnya 17% per tahun) dan tim yang bertanggung jawab mengelola operasional bisnis. Tim pertama memiliki tugas berat: mereka harus meyakinkan investor dan kreditor untuk memberikan modal dengan imbalan yang wajar. Sedangkan tim kedua memiliki tanggung jawab krusial: menggunakan modal tersebut secara efektif untuk menghasilkan return yang lebih tinggi dari biaya modalnya.
Inilah inti value creation: ketika tim operasional mampu menghasilkan return yang melebihi biaya modal yang diberikan oleh tim keuangan, maka nilai perusahaan tercipta. Jika tidak, meskipun laba akuntansi positif, bisnis Anda sebenarnya sedang menghancurkan nilai.
Apapun skala bisnis Anda, prinsip ini berlaku. Apakah Anda bisa menghasilkan return yang lebih tinggi dari biaya modal Anda? Jika ya, Anda sedang menciptakan nilai. Jika tidak, mungkin sudah waktunya evaluasi ulang strategi bisnis Anda.
Semoga blog ini bermanfaat dan membuka wawasan baru bagi Anda sebagai pebisnis. Value creation bukan hanya tentang angka di laporan keuangan, tapi tentang membangun bisnis yang benar-benar berharga dan berkelanjutan. Selamat menciptakan nilai!